Sahabat, artikel ini semoga bisa menjadi wacana bagaimana cara menjalankan bisnis personal franchise yang benar sesuai dengan kaidah bisnis dan tentunya Agama sebagai standar dari segala aktivitas hidup. Sepanjang pengalaman saya mendalami dunia personal franchise banyak orang menjalankannya dengan metode yang salah dan keliru. Paling tidak begitulah pada akhirnya tidak bisa bertahan dan gugur. Walaupun kenyataannya ada juga yang mendapatkan hasil yang besar loh, tapi ya ada juga yang rugi dengan pola yang dilakukannya.
Namun, sepanjang karir saya di dunia personal franchise, masih ada yang menjalankannya dengan pola kerjasama yang baik. Bagaikan lebah yang membangun rumahnya atas dasar kebersamaan. Bangunan bisnis yang dibangun atas dasar ini sangat kuat, walaupun mereka satu bangunan tapi tiap-tiap lebah memiliki ruang masing-masing. Saya menyebutnya dengan hujarat (kamar-kamar) walaupun istilah umumnya adalah no cross linning. Mereka bekerja sesuai dengan posisi dan fungsinya masing-masing namun saling bekerja sama. Ada lebah pejantan, pekerja, pencari madu, dan ada pula lebah ratu, namun dalam lingkup kebersamaan yang saya sebut jama'ah ber-shof-shof (berbaris saling beriringan) dalam muatan istilah umumnya good team player. Hebatnya lagi mereka saling melindungi satu sama lainnya, istilah saya adalah ta'awun (tolong-menolong) dalam istilah umum edifikasi. Dan mereka selalu berkomunikasi kepada lebah ratu untuk menghubungkan satu lebah dengan lainnya, istilah saya adalah Shilah (hubungan komunikasi) dalam istilah umumnya adalah konsultasi.
Masing-masing rumah lebah memiliki cadangan makanannya sehari-hari sebagai rizqi (madu), ada makanan sebagai hak untuk sang ratu lebah (royal jelly), bahkan ada pula untuk anak lebah (bipolen). Bahkan hebatnya bangunan rumah mereka dilindungi oleh zat yang tidak pernah kadaluarsa sebagai pelindung untuk masa depan semua cadangan makanan lainnya, yaitu anti bakteri, virus, dan kuman (propolis).
Bahkan saking taatnya sang lebah kepada Allah SWT, hingga lebah mengukirkan Asma Allah dalam sarangnya.
Mereka diperintah menjadikan bukit (saling bersusun rapih), pohon (memiliki akar, batang dan buah), dan rumah manusia (pondasi, dinding, dan atap) sebagai rumah mereka. Subhanallah, pola bangunan yang sangat kuat!
Kemudian cara mereka mencari makanan (rizqi) tidak sembarangan, dari sari bunga yang terpilih (tidak semua dimakan, hanya yang terpilih saja). Dan menempuh jalan yang Allah SWT mudahkan dengan system alamiah. Dengan demikian keluarlah rizqi yang bisa menyembuhkan segala penyakit (penyakit yang menyebabkan manusia sakit).
Nah, sahabat..hari ini kita belajar dari dua makhluq yang sama-sama tertera sebagai nama dari surat dalam kitab Al-Quran yang suci. Semoga ini menjadi wacana perbaikan untuk membangun bisnis yang benar sebagaimana lebah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar